Kisah Turunnya Al-Qur'an di Lailatul Qadar

Kisah Turunnya Al-Qur'an di Lailatul Qadar
📷 Lantunan Hati

Kisah Turunnya Al-Qur'an di Lailatul Qadar - Malam yang Lebih Baik dari 1000 Bulan.

Malam yang Mengubah Sejarah Manusia

Pada tahun ke-40 kehidupan Muhammad bin Abdullah (610 M), di pertengahan bulan Ramadan, tepatnya pada malam Lailatul Qadar (menurut kebanyakan ulama pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29), terjadi peristiwa yang mengubah sejarah umat manusia selamanya. 

Muhammad SAW - yang belum menjadi Nabi saat itu - sedang berkhalwat (menyendiri beribadah) di Gua Hira, sebuah gua kecil di puncak Gunung Jabal An-Nur (Gunung Cahaya) di luar kota Makkah.

Kebiasaan Berkhalwat

Sejak beberapa tahun sebelumnya, Muhammad SAW memiliki kebiasaan untuk menyendiri di Gua Hira, terutama di bulan Ramadan. Ia membawa bekal makanan untuk beberapa hari, naik ke gunung yang terjal itu, dan menghabiskan waktu untuk merenung, beribadah, dan berpikir tentang kebesaran Allah.

Gua Hira adalah tempat yang sangat sederhana:

Hanya sebuah gua kecil di puncak gunung

Sempit, hanya cukup untuk satu orang berbaring.Sangat sepi dan sunyi. Pemandangan dari mulut gua menghadap Ka'bah di kejauhan.Di sana, Muhammad SAW merenungkan kondisi masyarakat Makkah yang penuh dengan penyembahan berhala, kezaliman, dan kemaksiatan. Hatinya gelisah mencari kebenaran.

Malam yang Penuh Keajaiban

Pada malam yang sangat istimewa itu - Lailatul Qadar - Muhammad SAW sedang beribadah di dalam gua seperti biasa. Tiba-tiba, sesuatu yang tidak pernah ia alami sebelumnya terjadi!

Muncul sosok yang sangat besar dan bercahaya di depannya, memenuhi seluruh cakrawala - dari timur ke barat, dari utara ke selatan! Sosok itu adalah Malaikat Jibril dalam wujud aslinya yang memiliki 600 sayap!

Muhammad SAW sangat terkejut dan ketakutan! Ia tidak pernah melihat sesuatu seperti ini sebelumnya!

Perintah "IQRA!" (Bacalah!)

Malaikat Jibril mendekati Muhammad SAW dan berkata dengan suara yang menggelegar:

"IQRA!" (Bacalah!)
Muhammad SAW - yang tidak bisa membaca dan menulis (ummi) - menjawab dengan ketakutan:
"Aku tidak bisa membaca!"
Tiba-tiba Jibril memeluk Muhammad SAW dengan sangat erat hingga hampir tidak bisa bernapas, lalu melepaskannya dan berkata lagi:
"IQRA!"
Muhammad menjawab lagi dengan napas terengah-engah:
"Aku tidak bisa membaca!"
Jibril memeluknya lagi dengan lebih kuat, hingga Muhammad SAW merasa akan pingsan, lalu melepaskannya dan berkata untuk ketiga kalinya:
"IQRA!"
Muhammad menjawab dengan suara gemetar:
"Apa yang harus aku baca?"
Kemudian Jibril mengucapkan ayat-ayat Al-Qur'an pertama yang turun:
"Iqra' bismi Rabbikal-ladzi khalaq" (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan)
"Khalaqal-insana min 'alaq" (Dia menciptakan manusia dari segumpal darah)
"Iqra' wa Rabbukal-Akram" (Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Mulia)
"Alladzi 'allama bil-qalam" (Yang mengajar dengan pena)
"'Allamal-insana ma lam ya'lam" (Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya)

Ini adalah lima ayat pertama dari Surah Al-'Alaq (96:1-5) - ayat-ayat pertama Al-Qur'an yang turun!

Kembali dengan Gemetar

Setelah Jibril menghilang, Muhammad SAW sangat ketakutan! Seluruh tubuhnya gemetar hebat! Ia segera turun dari Gua Hira dengan terburu-buru, berlari menuruni gunung yang terjal dalam kegelapan malam.

Berkali-kali ia mendengar suara memanggil namanya dari langit: "Wahai Muhammad!" Ia menoleh ke atas, ke kanan, ke kiri - di manapun ia melihat, ada sosok Jibril yang besar memenuhi cakrawala!

Muhammad SAW sangat takut! Ia berlari sekuat tenaga menuju rumahnya. Ketika sampai di rumah, ia masuk dengan napas terengah-engah dan tubuh gemetar hebat. Ia berkata kepada istrinya, Khadijah:

"Zammiluni! Zammiluni!" (Selimuti aku! Selimuti aku!)

Khadijah segera menyelimuti suaminya dengan selimut tebal. Muhammad SAW masih gemetar. Khadijah memeluknya dengan erat untuk menenangkannya.

Menceritakan Apa yang Terjadi

Setelah gemetar mulai reda, Muhammad SAW menceritakan kepada Khadijah apa yang baru saja terjadi. Ia berkata dengan suara masih bergetar:

"Wahai Khadijah, aku khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk padaku..."

Khadijah - wanita bijaksana yang sangat mengenal suaminya - berkata dengan penuh keyakinan:

"Jangan! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu selamanya! Demi Allah, sesungguhnya engkau menyambung tali silaturahmi, engkau memikul beban orang yang lemah, engkau memberi kepada orang yang tidak punya, engkau memuliakan tamu, dan engkau menolong orang yang tertimpa kesulitan."

Khadijah tahu bahwa suaminya adalah orang yang sangat baik. Tidak mungkin Allah akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpanya.

Bertemu dengan Waraqah bin Naufal

Khadijah kemudian membawa Muhammad SAW kepada sepupunya, Waraqah bin Naufal - seorang pendeta Nasrani yang sangat alim, sudah sangat tua dan buta, namun memiliki pengetahuan luas tentang kitab-kitab suci.

Muhammad SAW menceritakan apa yang ia alami. Waraqah mendengar dengan seksama. Setelah Muhammad selesai bercerita, Waraqah yang sudah sangat tua itu berkata dengan suara bergetar:

"Ini adalah An-Namus (Malaikat Jibril) yang sama yang dulu turun kepada Musa! Andai aku masih muda... Andai aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu..."

Muhammad SAW terkejut: "Apakah mereka akan mengusirku?"

Waraqah menjawab dengan sedih:

"Ya. Tidak ada seorang pun yang membawa misi seperti yang engkau bawa kecuali akan dimusuhi oleh kaumnya. Jika aku masih hidup di masa itu, aku akan membantumu dengan sekuat tenaga."

Tidak lama setelah itu, Waraqah wafat.

Terputusnya Wahyu - Fatrah
Setelah turunnya wahyu pertama itu, wahyu terputus untuk beberapa waktu (ada yang mengatakan beberapa hari, ada yang mengatakan beberapa bulan, bahkan ada yang mengatakan hingga 3 tahun).
Periode ini disebut "Fatrah" (masa terputus wahyu).

Muhammad SAW sangat sedih dan rindu akan turunnya wahyu lagi. Ia merasa kehilangan dan kesepian. Ia sering naik ke puncak-puncak gunung, berharap bertemu lagi dengan Jibril.

Wahyu Kedua - Surah Al-Muddatstsir

Akhirnya, pada suatu hari, turunlah wahyu yang kedua. Malaikat Jibril datang lagi dan membawa perintah:

"Ya ayyuhal-Muddatstsir! Qum fa andzir!"

(Wahai orang yang berselimut! Bangunlah dan berilah peringatan!)

Ini adalah awal Surah Al-Muddatstsir (74:1-7), yang merupakan perintah resmi kepada Muhammad SAW untuk mulai berdakwah!

Sejak saat itu, wahyu turun secara berkala selama 23 tahun - 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah - hingga sempurna menjadi Al-Qur'an yang kita miliki sekarang.

Keistimewaan Lailatul Qadar

Allah menurunkan seluruh surah tentang malam istimewa ini - Surah Al-Qadr (97):

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam Lailatul Qadr."

"Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadr itu?"

"Malam Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan."

"Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan."

"Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar."

Lebih baik dari 1000 bulan!

1000 bulan = sekitar 83 tahun 4 bulan!

Beribadah di satu malam Lailatul Qadr lebih baik daripada beribadah selama 83 tahun tanpa Lailatul Qadr!

Tanda-Tanda Lailatul Qadar

Rasulullah SAW memberitahu tanda-tanda Lailatul Qadar:

1. Malam yang Tenang dan Damai:

"Lailatul Qadr adalah malam yang tenang, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Matahari pagi harinya terbit dengan lemah lembut tanpa sinar yang menyilaukan."

2. Tidak Ada Bintang Jatuh:

Malam itu sangat tenang, tidak ada meteor atau bintang jatuh.

3. Hati yang Damai:

Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar merasakan kedamaian luar biasa di hatinya, kebahagiaan spiritual yang tidak bisa dijelaskan.

4. Cahaya yang Istimewa:

Ada cahaya atau terang yang istimewa di malam itu, meski tidak ada bulan.

Kapan Lailatul Qadar?

Rasulullah SAW bersabda:

"Carilah Lailatul Qadar pada 10 malam terakhir Ramadan, pada malam-malam ganjil!"

Maka Lailatul Qadar paling mungkin jatuh pada:

  • Malam ke-21

  • Malam ke-23

  • Malam ke-25

  • Malam ke-27 (paling kuat menurut banyak ulama)

  • Malam ke-29

Amalan di Lailatul Qadar

Aisyah radhiyallahu anha bertanya:

"Ya Rasulullah, jika aku mengetahui malam mana yang Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca?"

Rasulullah SAW bersabda:

"Ucapkanlah: Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul-'afwa fa'fu 'anni"

(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku)

Kisah Para Sahabat Mencari Lailatul Qadar

1. Umar bin Khattab:

Umar sangat bersemangat mencari Lailatul Qadar. Ia mengumpulkan para sahabat senior dan bertanya: "Menurut kalian, kapan Lailatul Qadr?"

Ada yang berkata malam ke-21, ada yang berkata ke-23, hingga mereka sepakat untuk beribadah ekstra di seluruh 10 malam terakhir Ramadan agar tidak melewatkan Lailatul Qadr!

2. Abu Bakar Ash-Shiddiq:

Abu Bakar menghabiskan seluruh 10 malam terakhir Ramadan di masjid. Ia tidak pulang ke rumah. Ia beri'tikaf, shalat malam, membaca Al-Qur'an, dan berdoa tanpa henti.

3. Kisah Tiga Pemuda yang Menemukan Lailatul Qadar:

Ada tiga pemuda yang bersaudara. Mereka bertekad untuk tidak tidur di 10 malam terakhir Ramadan agar tidak melewatkan Lailatul Qadr.

Malam pertama, dua saudara berhasil bangun sepanjang malam. Saudara ketiga ketiduran.

Malam kedua, hanya satu saudara yang bangun sepanjang malam. Dua lainnya ketiduran.

Malam ketiga, ketiganya ketiduran!

Mereka sangat sedih. Ketika mereka menceritakan ini kepada ulama, sang ulama berkata:

"Jangan sedih! Kalian telah menunjukkan kesungguhan. Malam yang kalian bertiga tidur itulah Lailatul Qadr! Allah menjaga kalian untuk istirahat karena kalian telah berjuang keras sebelumnya!"

Pelajaran dari Turunnya Al-Qur'an

1. Ramadan adalah Bulan Al-Qur'an:

Al-Qur'an turun di bulan Ramadan, maka Ramadan sangat erat dengan Al-Qur'an. Kita harus memperbanyak membaca dan merenungi Al-Qur'an di bulan ini.

2. Lailatul Qadr adalah Hadiah Allah:

Satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan adalah hadiah Allah yang luar biasa untuk umat Muhammad SAW!

3. Jangan Sia-siakan 10 Malam Terakhir:

Rasulullah SAW sangat bersemangat di 10 malam terakhir Ramadan. Beliau bangun keluarganya, beri'tikaf, dan beribadah sepanjang malam.

4. Doa adalah Ibadah Terbaik:

Di Lailatul Qadr, doa adalah ibadah yang paling dianjurkan. Mintalah ampunan, kesehatan, keberkahan, dan surga!

Kisah Mengharukan: Seorang Ibu yang Menemukan Lailatul Qadar

Ada seorang ibu tua yang sangat miskin. Ia tidak bisa beribadah banyak karena sakit-sakitan. Di 10 malam terakhir Ramadan, ia sangat sedih:

"Ya Allah, aku ingin menemukan Lailatul Qadr, tapi aku tidak bisa shalat lama, aku tidak bisa baca Al-Qur'an banyak karena mataku sudah rabun..."

Namun ia tetap berusaha. Setiap malam, meskipun tubuhnya sakit, ia shalat dua rakaat dengan khusyuk, lalu duduk berdoa sambil menangis:

"Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul-'afwa fa'fu 'anni..."

Ia mengucapkan doa itu berkali-kali sambil menangis, memohon ampunan Allah.

Pada malam ke-27, ketika ia berdoa, tiba-tiba ia merasakan kedamaian luar biasa di hatinya. Hatinya dipenuhi kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan. Ia menangis sejadi-jadinya dalam sujud syukur.

Pagi harinya, ketika matahari terbit, ia melihat cahaya matahari yang sangat lembut, tidak menyilaukan seperti biasa.

Ia tahu bahwa ia telah menemukan Lailatul Qadr!

Meskipun ibadahnya sederhana, keikhlasan dan air matanya diterima Allah di malam yang paling mulia!

Hadits Penutup

Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa yang mengerjakan ibadah (shalat) pada malam Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu a'lam bisshawab.


#Lailatulqodar #malamseribubulan #ramadan #turunnyaalquran #wahyupertama #guahira

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Smartwatchs

Responsive Advertisement
Produk 1

Dress Gamis Muslim Import Bahan Cotton Turkey

Rp 174.900

Produk 2

Dress Satu Set Gamis Usana Muslimah

Rp 190.000

Produk 3

Mukena Dewasa Bahan Premium

Rp50.200